Saturday, September 5, 2009

Apa akan berlaku?

[Entry ni, masa I tengah stess berdebat dengan kawan di pesbook. Dah sejuk hati I nanti, delete jer laa kot. I'm a reserve person, tapi kalau orang asyik bantai...kena jawab dan terangkan apa sebenarnya yg berlaku]

Indonesia nak putuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia? Macam mana dengan nasib 2.2 juga rakyat Indonesia yg mencari nafkah di sini? Dah gila kot agaknyer die orang ni.

http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=68177


Petikan di bawah, lagilah bengong sebengong bengongnya...


Monday, 31 August 2009
Begug ’deadline’ Malaysia 2 bulan

WONOGIRI - Aksi unjuk rasa memprotes Malaysia di alun-alun depan Kantor Bupati Wonogiri, Minggu (30/8) kemarin, diikuti ribuan orang yang melibatkan PNS, karyawan swasta, seniman, budayawan, pemuda dan pelajar. Dalam aksi yang dipimpin Bupati Begug Poernomosidi itu, peserta membawa puluhan spanduk dan ratusan poster yang semuanya bertuliskan aksi protes atas klaim Malaysia terhadap kesenian Indonesia. Tak hanya itu demo juga dihiasi atraksi berbagai kesenian bangsa Indonesia, seperti reog, tari kuda lumping, kethek ogleng dan lainnya. Usai pementasan seni, Begug Poernomosidi memasuki lapangan diiringi para penari putri dan dipayungi bak seorang raja.

Begug menggunakan pakaian serba putih, dan disampingnya ada dalang Ki Enthus Susmono yang memakai pakaian hitam. Yang menarik, kedua tokoh seni Jawa ini memasang keris di bagian depan badan masing-masing, tidak seperti lazimnya ditaruh di belakang badan. Pemasangan keris di depan badan ini merupakan simbol kemarahan dan siap berlaga di medan perang.

Pernyataan sikapBegug kemudian menuju panggung yang sudah disediakan, untuk selanjutnya membacakan pernyataan sikap. "Kami para seniman, seniwati, budayawan, pelaku budaya, pemuda dan pelajar, sebagai warga negara Republik Indonesia siap mempertahankan harkat dan martabat bangsa Indonesia dengan semboyan Rawe-rawe rantas malang-malang putung, sedumuk bathuk sanyari bumi," seru Begug.

Lebih lanjut Begug dalam pernyataan sikapnya memberi waktu selambat-lambatnya dua bulan kepada pemerintah Malaysia untuk "mengembalikan" aset-aset bangsa Indonesia yang telah diklaim sebagai milik pemerintah Malaysia.

Yaitu terkait naskah-naskah kuno dari Riau, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Kemudian masakan rendang dari Sumatra Barat, lagu Rasa sayange dari Maluku, lagu Soleram dari Riau, lagu Injit-injit semut dari Jambi, alat musik gamelan dari Jawa, tari kuda lumping dari Jawa Timur, tari piring dari Sumatera Barat, lagu Kakak tua dari Maluku, lagu Anak kambing saya dari Nusa Tenggara, motif batik parang dari Yogyakarta, badik tumbuk lada dari kepulauan Riau, musik indang sungai garinggiang dari Sumatera barat, kain ulos dari Batak, alat musik angklung dari Jawa Barat, lagu Jali-jali dari Betawi dan tari pendet dari Bali.

"Apabila tidak diindahkan, kami akan mendatangi kembali Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta dengan membawa kekuatan 5.000 hingga 10.000 orang, serta mendesak kepada Pemerintah Indonesia untuk menekan pemerintah Malaysia agar menyerahkan Ambalat ke wilayah Republik Indonesia, menyerahkan para teroris dari Malaysia ke Pemerintah Indonesia untuk dimintai pertanggungjawaban, permohonan maaf atas pelecehan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan penghentian penyiksaan terhadap TKI yang bekerja di Malaysia," ujarnya.
Usai dilakukan pembacaan sikap, diteruskan dengan pembubuhan tanda tangan dukungan yang dilakukan dari perwakilan berbagai unsur. Pm-Ct

2 comments:

amiey lee said...

rasany diorang ni dh terlalu emosionallllllllllll...

suma tu bukan milik begara, tempat..ia milik kaum dn masyarakatttt....suma benda tu wujud sebelum adanya Malaysia n Indonesia...

Aina@Azila said...

betul tu....memang malang laa kita dapat jiran cam ni. Kiasu....